Hal pertama yang kamu sadari di Hokkaido saat musim dingin bukan dingin. Tapi sunyi.
Salju menyerap suara. Kamu turun dari kereta di kota kecil, dan yang biasanya kamu dengar di mana saja, gema langkah, dengung lalu lintas, suara orang dari kejauhan, semuanya hilang. Yang tersisa hanya bunyi sepatumu menekan salju, krasak pelan yang berulang. Hokkaido di musim dingin adalah salah satu tempat di dunia di mana kamu bisa benar-benar mendengar keheningan.
Brosur tidak menjual ini. Brosur menjual lereng ski, powder snow, dan onsen dengan pemandangan gunung. Semuanya nyata dan semuanya bagus. Tapi semuanya melewatkan bagian yang paling diingat orang setelah pulang: betapa pelannya semuanya.
Otaru, kota yang dipeluk salju
Naik kereta sekitar tiga puluh menit dari Sapporo, kamu sampai di Otaru, kota pelabuhan kecil yang menghadap Laut Jepang. Dulu kota dagang sibuk, sekarang kota tua yang tenang, dengan gudang-gudang bata di sepanjang kanal.
Di musim dingin kanal ini berubah. Enam puluh tiga lampu gas berdiri di sepanjang tepinya, dan saat malam datang, cahayanya jatuh hangat ke salju yang menumpuk di tepi air. Setiap Februari, kota ini menyalakan ribuan lilin salju di sepanjang jalan dan kanal, sebuah acara bernama Otaru Snow Light Path. Bukan festival besar dengan musik dan panggung. Ia justru kecil, pelan, dan hangat di tengah udara yang membeku.
Kamu berjalan pelan di sepanjang kanal. Lilin-lilin kecil ditata di dalam cekungan salju, masing-masing nyala kuning lemah yang bergetar saat angin lewat. Pasangan tua berjalan diam-diam. Anak kecil berhenti memandang satu lilin terlalu lama. Tidak ada yang terburu-buru, karena tidak ada yang harus dikejar.
Salju tidak menutupi kota. Ia menurunkan volumenya. Dan dalam volume yang lebih rendah itu, kamu mulai dengar hal-hal yang biasanya tertutup keramaian.
Hal-hal kecil yang lambat
Hokkaido mengajarkanmu menghargai hal yang biasa diburu-buru.
Semangkuk ramen miso panas di kedai sempit, uapnya naik ke kaca jendela yang berembun, sementara di luar salju turun pelan. Kopi di kafe tua dengan lantai kayu yang berderit. Toko musik kotak di Otaru yang dipenuhi suara dentang lembut dari ratusan jam dan kotak musik. Pasar pagi di mana penjual menata kepiting dan uni di atas es, napas mereka mengepul di udara.
Tidak satu pun dari ini cocok jadi judul brosur. Tapi inilah yang akan kamu ceritakan saat pulang. Bukan "saya main ski di Niseko", tapi "ada satu malam di kota kecil di mana salju turun dan tidak ada suara apa-apa, dan saya merasa sangat tenang."
Saat dingin jadi bagian dari cerita
Suhu di Hokkaido turun jauh di bawah nol. Kamu akan kedinginan, dan itu bukan kelemahan rencana, itu bagian dari pengalamannya. Dingin yang membuat semangkuk sup terasa lebih berarti. Dingin yang membuat kamar penginapan terasa seperti pelukan saat kamu masuk. Dingin yang membuat onsen terasa seperti hadiah, air panas alami sementara salju turun di kepalamu dan uap naik dari permukaan kolam.
Ada cara hidup orang Hokkaido yang tenang dengan dinginnya. Mereka tidak melawan, mereka menyesuaikan. Rumah hangat, baju berlapis, langkah pelan. Beberapa hari di sana dan kamu mulai ikut iramanya. Kamu berhenti terburu-buru. Kamu mulai melihat.
Kenapa Hokkaido beda dari Jepang yang lain
Kebanyakan orang Indonesia membayangkan Jepang sebagai Tokyo dan Kyoto, kuil dan kota neon. Hokkaido adalah Jepang yang lain: lapang, dingin, jarang penduduk, dengan ruang yang luas di antara satu kota dan kota berikutnya.
Di sinilah daya tariknya. Bukan banyak tempat dalam waktu singkat, tapi sedikit tempat dengan waktu yang cukup. Itu sebabnya kami menyusun perjalanan musim dingin di sini dengan lebih pelan, memberi ruang untuk hari yang tidak penuh jadwal. Lihat tour Jepang dari Avenir untuk melihat bagaimana musim dingin bisa direncanakan tanpa membuatmu kelelahan.
Yang perlu kamu siapkan
Lapisan adalah kunci. Baju dalam termal, lapisan tengah hangat, dan jaket tahan angin di luar. Sarung tangan, penutup telinga atau topi, dan sepatu dengan sol yang tidak licin di salju, ini yang sering dilupakan dan paling penting. Bawa pelembap, karena udara dingin kering membuat kulit mudah pecah. Acara Otaru Snow Light Path biasanya berlangsung di pertengahan Februari, bersamaan dengan Sapporo Snow Festival, jadi keduanya bisa dilihat dalam satu perjalanan. Periksa tanggal resmi tahun berjalan sebelum mengunci jadwal, karena tanggal festival bergeser sedikit setiap tahun.
FAQ
Kapan waktu terbaik mengunjungi Hokkaido untuk salju? Akhir Desember sampai Februari adalah puncak musim dingin. Februari paling diandalkan untuk salju tebal sekaligus bertepatan dengan festival salju di Otaru dan Sapporo.
Apakah Hokkaido cocok untuk yang tidak suka main ski? Sangat cocok. Ski hanya satu bagian kecil. Otaru, onsen, pasar pagi, dan kota-kota kecil bisa dinikmati tanpa pernah menyentuh papan ski sama sekali.
Seberapa dingin sebenarnya, dan apakah tertahankan untuk orang Indonesia? Suhu bisa di bawah minus sepuluh. Terasa ekstrem di awal, tapi dengan lapisan baju yang benar, ia tertahankan dan justru jadi bagian pengalaman. Banyak traveler Indonesia menikmatinya setelah hari pertama beradaptasi.
Apakah Otaru bisa dikunjungi dalam sehari dari Sapporo? Bisa. Kereta dari Sapporo ke Otaru sekitar tiga puluh menit, jadi banyak orang datang sore, melihat kanal saat lampu menyala, lalu kembali. Tapi kalau kamu ingin merasakan kota yang sepi di pagi hari, menginap semalam sepadan.

